Nizna W

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

PR yang Terlalu Banyak

#Bab2

Hari ini Kirana bersiap sekolah. Tentu saja sekolah, karena hari ini adalah hari selasa.

Burung-burung yang berterbangan juga menambah semangatnya untuk hari ini. Tampak wajah cerahnya berseri-seri.

Kirana diam-diam menepuk punggung Melia dari belakang. Kirana bermaksud memberikan kejutan untuknya.

"Door!" Kirana tersenyum.

Benar saja dugaannya. Melia terkejut.

"Astaghfirullah..." Melia masih ngos-ngosan. Deru jantungnya berdebar-debar.

"Hihi, maaf ya!" ujar Kirana.

Melia terdiam beberapa saat. Lalu mengangguk sambil tersenyum.

"Ke sekolah bareng yuk.." ajak Kirana.

Mereka pun pergi ke sekolah bersama.

~

Tok.. Tok..

"Assalamu'alaykum." Kirana membuka pintu perlahan. sambil membuka pintu kelas 5, ia memicingkan matanya.

Ternyata Ustadzah Laila sudah berdiri di depan kelas bersiap mengajar pelajaran Matematika. Jantungnya berdegup kencang.

'Pfiuuh. Hampir saja terlambat.' ucapnya dalam hati. Setelah itu ia dan Melia melangkahkan kaki bersamaan menuju tempat duduk masing-masing.

Hatinya bergetar tanpa henti. Berharap Ustadzah tak menghukumnya untuk saat ini. Itu akan sungguh memalukan!

"Langsung kita mulai saja ya." Ustadzah tersenyum.

"Assalamu'alaykum Warahmatullah.." sapa Ustadzah Laila.

Dalam hatinya, Kirana sedikit merasa lega. Tentu saja lega, karena ia tak jadi di hukum karena datang terlambat.

'Alhamdulillah..' pikirnya. Hati kecilnya tersenyum sejenak.

Ustadzah Laila membawa setumpuk kertas. Tangannya mulai memberikan selembar kertas kepada seluruh murid kelas 5. "Jangan lupa di kerjakan ya." Ustadzah Laila menyunggingkan senyuman manisnya.

Jantung Kirana kembali berdetak kencang.

'Hei!? kapan ustadzah mengumumkan bahwa ada ujian Matematika untuk hari ini? padahal kan ujiannya di mulai 3 minggu lagi..' pikirannya benar-benar kacau.

Rarra dan Melia asyik sendiri dengan hobi masing-masing. Rarra duduk di bangkunya sambil menulis buku hariannya. Sedangkan Melia menggambar ungkapan perasaan hatinya di atas buku catatannya.

'Apa ini kertas ulangan? Atau kertas ujian? Aah tidak...' Hatinya kembali berbicara sendiri. Tangannya meraih selembar kertas yang di beri oleh Ustadzah Laila.

Ternyata pikirannya salah!

sambil melirik ke arah kertas itu, Kirana memicingkan kembali mata kanannya. Apa!?

"Hei, ternyata hanya kertas latihan soal! Alhamdulillah." Kirana berbicara pelan. Dalam hatinya, ia sedikit menyesal karena sudah berprasangka buruk. Kemudian ia tersenyum.

Setelah pelajaran Tematik selesai, Akhirnya bel tanda istirahat berdentang. Tentu saja Kirana menghela napas lega.

"Kirana, Ayo ke taman." Melia menggandeng tangan Kirana. Rarra juga mengangguk.

"Oke." jawab Kirana.

"Ra, nih catatan Tematik kemarin." ucap Melia. Lalu menyerahkannya kepada Rarra. Ia duduk di bangku taman sebelah air mancur.

"Siip.."

Kriiiingg..

Bunyi bel masuk kelas kembali berdentang.

Itu tandanya seluruh murid harap masuk kelas masing-masing. Kirana, Melia, dan Rarra juga berlari menuju kelas meninggalkan area taman sekolah yang rimbun di penuhi berbagai bunga.

"Qona'ah.. Apa itu Qona'ah? Qona'ah adalah selalu merasa bersyukur atas semua rezeki dan karunia dari Allah." itulah sekilas pelajaran Aqidah untuk hari ini. Ustadzah Rini mengajar sambil menulis materi Aqidah itu di papan tulis.

"Kirana.." panggil Melia. Kemudian ia menyenggol lengan sahabatnya.

"Sstt.." sahut Kirana. Ia menempelkan ujung jari telunjuknya ke depan bibirnya. Berharap Melia tak mengganggunya.

"Kiran." panggil Melia lagi.

"Isshh.. diam Mel.." Kirana kembali menyahut. Wajahnya tak beralih dari papan tulis. Tentu saja ia sedang mencatat materi hari ini.

"Huuft.." ucap Melia kesal. Wajahnya di tekuk. Bibirnya manyun.

Lalu dia membuang muka menghadap ke arah lain.

"Kenapa lagi sih Mel? Tadi pagi kan kamu yang bikin Aku terlambat datang ke sekolah.." Kirana menghentikan tangannya dari kegiatan mencatat materi Aqidah.

"Whaat!?" Melia mengernyitkan alis. Rasanya ada yang aneh. "Bukannya tadi kamu yang nyusul Aku? Terus tadi kamu yang ngajakin Aku berangkat sekolah bareng kan?" Tanya Melia beruntun. Aneh sekali dengan Kirana. Dahinya masih berkerut sejenak.

"Apa? kamu bilang kalau Aku yang ngajakin kamu berangkaat sekola.." Kirana menghentikan ucapannya. dalam hatinya ia sedikit berpikir. seketika pembicaraan dengan Melia terhenti.

"Hmm.." Kirana menghela napas.

Hampir 1 jam mereka berdebat. Tapi setelah itu mereka saling memaafkan. Tak mungkinkan, jika bersahabat tapi tak mau memaafkan? menurut Kirana, itu sangat mustahil..

Akhirnya, pelajaran Aqidah berlalu tanpa di sadari oleh keduanya. Dalam hati masing-masing, mereka merasa aneh pada diri sendiri.

"Baiklah, materi untuk hari ini sudah selesai. Alhamdulillah. O,iya, jangan lupa PR nya di kerjakan ya!" Ustadzah Rini kembali menghadap papan tulis dan menulis tugas PR yang harus di kerjakan oleh murid-muridnya.

'Tadi kan sudah latihan.. sekarang kok di kasih tugas lagi?.' pikir Kirana. Matanya sibuk melihat papan tulis yang sudah terlihat tugas untuk hari ini. Sejenak dahinya berkerut saat mengetahui bahwa semua jumlah tugasnya adalah 20 soal.

Lalu bel pertanda pulang sekolah berbunyi. semuanya keluar kelas dan bergegas pulang.

Kirana, Rarra, dan Melia juga pulang bersama.

"Humm. Ra, Mel.. PR minggu ini banyak banget ya." Kirana sedikit mengeluh. Kemudian ia mengambil buku jadwal harian di dalam tasnya. Ia juga kembali teringat, karena 3 minggu lagi sudah mulai ujian.

'Memang ujian meresahkan!' pikir Kirana dalam hati.

Rarra mengangguk.

"Iya. Banyak banget. Jadi tambah pusing Aku.." celoteh Melia.

"Hehe.." Rarra setengah mengejek. "Aku berharap semoga bisa mengerjakan ujian Tematik nanti tanpa belajar." gumam Rarra. Dia memang suka mengkhayal yang tidak2.

Kirana sedikit tertawa dengan tingkah Rarra. Mana mungkin bisa mengerjakan ujian tanpa harus belajar? Itu sudah pasti tidak lagi bisa di mungkinkan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Seru gaak?? >-<

30 Mar
Balas

Bergabung bersama komunitas Siswa Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali